Abu Sayyaf Menantang Indonesia

Pemberitaan media televisi di Indonesia saat ini banyak menyorot kasus penyanderaan 10 abk kapal berbendera Indonesia. Kasus ini seperti menunjukan Abu Sayyaf menantang Indonesia untuk berperang.
Banyak pejabat dan tokoh yang berkomentar terhadap kasus ini, sebagian berkata lantang akan bertempur dengan Abu Sayyaf sebagian lagi mengomentari dengan hati-hati terkait kasus ini. Motif komentar mereka beragam ada yang ingin jadi pahlawan, ada yang ngomong formalitas, ada yang ngomong berdasar rasa kemanusiaan bahkan ada yang komentar ngawur.

Perhitungan Perang Melawan Abu Sayyaf

Tentunya TNI dan Polri adalah kekuatan yang harus diperhitungkan dalam melawan Abu Sayyaf karena merekalah ujung tombak kekuatan Indonesia. Media televisi memberitakan kesiapan Polri maupun kekuatan tiap angkatan untuk bertempur melawan Abu Sayyaf, Densus 88, Kopassus, Denjaka, Paskhas dan semua elemen angkatan bersenjata Indonesia siap untuk berangkat ke Filipina.
Dilihat dari jumlah personel, peralatan perang, organisasi perang, logistik perang maupun dukungan dari semua pihak baik dalam negeri maupun dunia internasional Indonesia jauh lebih unggul dari kelompok Abu Sayyaf.

BACA : Kekuatan Militer Indonesia Nomer 1 di ASEAN

Sementara kelompok Abu Sayyaf unggul dalam penguasaan wilayah/medan dan tentunya unggul dalam hal jumlah sandera (bisa disebut jumlah tawanan).
Dua faktor lagi yang sangat berperan dalam memenangkan pertempuran adalah mental dan pengalaman. Mental perang Abu Sayyaf mungkin sudah terbentuk dengan baik karena kehidupan mereka adalah berperang, jadi real battle adalah makanan mereka sehari-hari. Hal ini tentunya berbanding lurus dengan pengalaman tempur mereka yang terlatih secara alami menghadapi pertempuran.
Pasukan TNI terutama pasukan khususnya sangat terlatih untuk menghadapi pertempuran, taktik dan strategi perang terbentuk dari latihan dan teori yang di ajarkan secara sistematis. Doktrin-doktrin perang di tanamkan dengan kuat “lebih baik mati daripada gagal menjalankan tugas’ begitu salah satunya. Mungkin real battle dari pasukan TNI saat ini hampir tidak ada. Dulu masih ada pertempuran melawan GAM dan Fretilin yang bisa membentuk mentalitas dalam berperang tetapi sekarang keadaan dalam negeri yang relatif aman menyebabkan TNI lebih banyak beraktifitas dalam kegiatan sipil/kemasyarakatan. Dan tentunya hal ini berpengaruh terhadap pengalaman tempur pasukan TNI.

Dalam sebuah acara di Inews menghadirkan mantan aktifis yang pernah ke Filipina bergabung dengan milisi disana. Dia mengatakan akan sulit bagi TNI untuk mengalahkan kelompok Abu Sayyaf tanpa korban/sedikit korban. Perbandingannya adalah kasus pelatihan teroris di Aceh, pada saat menghadapi kelompok tersebut yang notabene baru latihan dengan jumlah yang lebih kecil dan persenjataan lebih sederhana bisa timbul beberapa korban. Maka jika kita menyerbu kelompok Abu Sayyaf di Filipina pasti akan timbul korban yang banyak bahkan keselamatan sandera akan terancam. Beberapa kali pembebasan sandera yang sudah pernah dilakukan ternyata tidak bisa menyelamatkan semua sandera. Terakhir penyanderaan di Somalia bisa selamat semua karena tuntutan para penyandera dibayar.
Keselamatan para sandera tentunya harus menjadi prioritas utama, rasa kemanusiaan terhadap para korban dan keluarga perlu dikedepankan dalam penyeleseian kasus ini. Walaupun disisi lain jika tuntutan Abu Sayyaf di penuhi akan menciderai harga diri bangsa Indonesia.
Semoga para korban penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf dapat pulang kembali ke tanah air dengan selamat.

2 thoughts on “Abu Sayyaf Menantang Indonesia

%d blogger menyukai ini: