MNLF Membantu Pelepasan Sandera Abu Sayyaf

Setelah penantian yang cukup lama akhirnya 10 ABK warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf dilepaskan. Para sandera ditinggalkan didepan rumah Gubernur Sulu Abdusakur “Toto” Tan Jr. Gubernur Sulu mengatakan pembebasan sandera WNI adalah hasil dari operasi militer dan polisi di wilayahnya. Tan juga mengatakan bahwa MNLF membantu pelepasan sandera Abu Sayyaf melalui ketuanya Nur Misauri.

Pemerintah provinsi Sulu juga sedang berupaya untuk membebaskan empat sandera WNI lain yang diculik kelompok Abu Sayyaf pada 15 April di perairan Tawi-Tawi. Dia juga meminta bantuan MNLF untuk menemukan dan menegoisasikan pembebasan keempat sandera tersebut. Selain itu MNLF juga setuju bekerjasama mengatasi ancaman penculikan diwilayah tersebut.

Pihak militer dan polisi Filipina tidak memberikan detail proses pembebasan sandera. Pemerintah setempat juga tidak mengatakan apakah tebusan dibayar atau tidak. Tapi mereka tetap bersikukuh untuk tidak membuka opsi pembayaran tebusan.

Banyak pihak di Filipina yang meragukan pembebasan 10 sandera oleh Abu Sayyaf tanpa membayar tebusan. Sumber dari pemerintah maupun militer filipina mengatakan sangat sulit dipercaya Abu Sayyaf akan membebaskan mereka tanpa tebusan. Media Filipina bahkan mengutip seorang sumber yang mengatakan uang tebusan telah dibayar.

Pemerintah Indonesia juga tidak memberikan keterangan tentang uang tebusan apakah dibayar atau tidak. Tetapi seorangĀ  negoisator dari Indonesia membantah telah terjadi pembayaran tebusan. Walaupun sejumlah uang yang diminta oleh Abu Sayyaf sudah disiapkan pihak perusahaan tapi pembayaran tidak terjadi.

Pelepasan Sandera Abu Sayyaf : Analisa

Pembayaran uang tebusan kepada Abu Sayyaf seperti buah simalakama. Disatu sisi keselamatan sandera adalah prioritas utama tetapi dilain sisi pembayaran uang tebusan di tolak oleh sebagian besar masyarakat internasional. Pemerintah Kanada gagal menyelamatkan warganya yang disandera karena tidak membayar tebusan. Demikian juga pemerintah Filipina yang menolak karena pembayaran tebusan akan memperkuat posisi kelompok militan abu sayyaf.

Terlepas dari dibayar atu tidaknya uang tebusan tetapi upaya pemerintah dalam pembebasan para sandera sangat baik. Diyakini upaya intelejen dalam negoisasi dengan abu sayyaf merupakan faktor utama pembebasan sandera. Pendekatan kepada pihak-pihak Bangsa Moro seperti MNLF, pemerintah lokal, bahkan lewat orang Indonesia yang pernah bertempur di Filipina. Pendekatan lewat tokoh-tokoh yang punya akses ke kelompok abu sayyaf jauh lebih efektif daripada operasi militer. Kelompok seperti Abu Sayyaf merupakan kelompok yang tidak mudah ditakuti dengan senjata. Pernyataan Gubernur Sulu yang mengatakan pembebasan 10 WNI termasuk hasil operasi sepertinya hanya lip service. Kemungkinan faktor terbesar suksesnya pembebasan sandera karena operasi terselubung pemerintah Indonesia.

Baca : Siapakah Pasukan Elit Terbaik Indonesia ?

%d blogger menyukai ini: